Pengertian Moral dan perkembangan moral
MAKALAH
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II
DEVINISI MORAL DAN PERKEMBANGAN MORAL
Oleh
Kelompok II:
1.
M.
Ikrom
2.
Wita
Winaria
3.
Rita
Diana
Dosen
Pengampu :
Arni Mabruria, S.Pd.I., M.Si.
PROGRAM STUDI
BIMBINGAN KONSELING ISLAM
INSTITUT AGAMA
ISLAM (IAI) AL-AZHAAR
LUBUKLINGGAU
2017-2018
DAFTAR ISI
DAFTAR
ISI............................................................................................................ i
KATA
PENGANTAR............................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Devinisi
Moral dan Perkembangan Moral............................................................ 2
B. Tahap dan Perkembangan Moral........................................................................... 3
C. Faktor yang Mempengaruhi
Moral....................................................................... 5
D. Perbedaan Individual dalam Tahap Perkembangan Moral................................... 7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................................... 8
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................. 9
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah Puji Syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas
rahmat dan karunianya yang dilimpahkan kepada kita semua, shalawat serta salam
semoga senantiasa di tunjukkan kepada nabi Muhammad SAW, atas ridho Allah SWT
penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Tidak lupa penulis mengucapkan maaf karena dalam pembuatan makalah
ini, masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran
guna perbaikan makalah ini, yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi kita
semua…. Amin.
Lubuklinggau,10 Oktober 2017
PENYUSUN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan pada dasarnya bertujuan
untuk membantu individu mencapai perkembangan yang optimal sesuai dengan
potensi yang dimilikinya, dan melalui pendidikan dapat diwujudkan generasi muda
yang berkualitas baik dalam bidang akademis, religious maupun moral. Hal ini
erat kaitannya dengan Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1. Berdasarkan tujuan
pendidikan nasional, salah satu upaya sekolah dalam rangka meningkatkan mutu
lulusan siswanya adalah dengan menanamkan aspek kepribadian kepada setiap
siswa.
Aspek kepribadian ini merupakan
nilai-nilai dasar yang berhubungan dengan sikap dan perilaku. Untuk mencapai
dan memiliki kepribadian yang mantap, diperlukan kepribadian siswa yang
disiplin, giat, gigh, dan tekun. Lingkungan sekolah tempat berlangsungnya
proses pembelajaran diharapkan memberikan konstribusi yang positif terhadap
perkembangan jiwa siswa karena sekolah adalah tempat berlangsungnya
pendidikan.Anak belajar untuk menjalani kehidupan melalui interaksi dengan
lingkungan. Lingkungan yang kedua setelah lingkungan keluarga dikenal anak
adalah lingkungan sekolah. Sekolah mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap perkembangan kepribadian anak didik. Di sekolah siswa melakukan berbagai
kegiatan untuk mencapai keberhasilan belajar.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
Devinisi Moral dan Perkembanganya?
2. Apa
Tahap-tahap Perkembangan Moral?
3. Faktor
apasajakah yang mempengaruhi perkembangan Moral?
4. Perbedaan
Individual dalam perkembangan Moral?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Devinisi
Moral dan Perkembangan Moral
Pengertian Moral menurut Gunarsa adalah rangkaian
nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi. Istilah moral
sendiri berasal dari kata mores yang berarti tata cara dalam
kehidupan, adat istiadat atau kebiasaan. Menurut Shaffer adalah
kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya
dengan masyarakat dan kelompok sosial. Moral ini merupakan standar baik dan
buruk yang ditentukan oleh individu dengan nilai-nilai sosial budaya di mana
individu sebagai anggota sosial. Menurut Rogers adalah aspek kepribadian
yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara
harmonis, seimbang dan adil. Perilaku moral ini diperlukan demi terwujudnya
kehidupan yang damai penuh keteraturan, keharmonisan dan ketertiban. Sementara
perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu,
seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial dan moral.[1]
Menurut Kohlberg, penilaian dan perbuatan moral pada intinya bersifat
rasional. ia membenarkan gagasan
Jean
Piaget yang mengatakan bahwa pada masa remaja sekitar umur 16 tahun
telah mencapai tahap tertinggi dalam proses pertimbangan moral. Adanya
kesejajaran antara perkembangan kognitif dengan perkembangan moral dapat
dilihat pada masa remaja yang mencapai tahap tertinggi dari perkembangan moral,
yang kemudian ditandai dengan kemampuan remaja menerapkan prinsip keadilan
universal pada penilaian moralnya. Kolhberg
(dalam Santrock, 2002:370) menekankan bahwa perkembangan
moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara
bertahap. Perkembangan moral (moral development) berkaitan dengan aturan dan
konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya
dengan orang lain.
Dalam mempelajari aturan-aturan ini
para pakar perkembangan akan menguji tiga bidang yang berbeda yaitu: Bagaimana
anak-anak bernalar atau berpikir tentang aturan-aturan untuk perilaku etis,
Bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan bermoral, Bagaimana
anak merasakan hal-hal moral itu. Pendidikan moral adalah suatu program
pendidikan (sekolah dan luar sekolah) yang mengorganisasikan dan
menyederhanakan sumber-sumber moral dan disajikan dengan memperhatikan
pertimbangan psikologis untuk tujuan pendidikan[2].
B.
Tahap
Perkembangan Moral
Menurut Kohlberg (dalam Ormord,
2000:371). Kohlberg mengemukakan ada
tiga tingkat perkembangan moral, yaitu tingkat prakonvensional, konvensional
dan post-konvensional. Masing-masing tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga
keseluruhan ada enam tahapan (stadium) yang berkembang secara bertingkat dengan
urutan yang tetap.
a.
Tingkat Penalaran Prakonvensional
Pada penalaran prakonvensional anak tidak memperhatikan internalisasi
nilai-nilai moral-penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan
hukuman eksternal. Pada tingkat ini terdapat dua tahap.
a)
Tahap satu orientasi hukuman dan ketaatan (punihsment
and obedience orientation): tahap penalaran moral didasarkan atas hukuman.
Anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat.
b)
Tahap dua individualisme dan tujuan (individualism and
purpose): tahap penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan
kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin dan butuh untuk taat. Apa
yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan
hadiah.
b.
Tingkat Penalaran Konvensional
Pada tingkat ini, internalisasi indivdual ialah menengah.Seseorang menaati
standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati
standar-standar orang lain (eksternal), seperti orang tua atau aturan-atuaran
masyarakat.
a)
Norma-norma interpersonal (interpersonal norms).
Seseorang menghargai kebenaran, kepedulian, dan kesetiaan kepada orang lain
sebagai landasan pertimbangan moral. Anak-anak sering mengadopsi
standar-standar moral orang tuanya pada tahap ini, sambil mengharapkan dihargai
oleh orang tuanya sebagai seorang “perempuan yang baik” atau seorang “laki-laki
yang baik.”
b)
Moralitas sistem sosial (social system morality).
Pertimbangan-pertimbangan didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum,
dan kewajiban.
c.
Tingkat Penalaran Pascakonvensional
Tingkat ini ialah tingkat tertinggi
dalam teori perkembangan moral kohlberg. Pada tingkat ini moralitas benar-benar
diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain.
Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki
pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.
a)
Hak-hak masyarakat dengan hak-hak individual
(community rights and individual rights). Seseorang memahami bahwa nilai-nilai
dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari
satu orang ke orang lain. Seseorang menyadari bahwa hukum penting bagi
masyarakat, tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. Seseorang percaya
bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan, lebih penting dari pada hukum.
b)
Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical
principles). Seseorang telah mengembangan suatu standar moral yang didasarkan
pada hak-hak manusia yang manusia yang universal. Bila menghadapi konflik
antara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun
keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi.
C.
Faktor yang
Mempengaruhi Perkembangan Moral
a.
Perkembangan Kognitif Umum
Penalaran moral yang tinggi yaitu
penalaran yang dalam mengenai hukum moral dan nilai-nilai luhur seperti
kesetaraan, keadilan, hak-hak asasi manusia dan memerlukan refleksi yang
mendalam mengenai ide-ide abstrak.Dengan demikian dalam batas-batas tertentu,
perkembangan moral tergantung pada perkembangan kognitif. (Kohlberg dalam
Ormord, 2000:139). Contoh: anak-anak secara intelektual berbakat umumnya lebih
sering berpikir entang isu moral dan bekerja keras mengatasi ketidakadilan di
masyarakat lokan ataupun dunia secara umum ketimbang teman-teman sebayanya
(Silverman dalam Ormord, 200:139). Meski demikian, perkembangan kognitif tidak
menjamin perkembangan moral. Anak yang memiliki bakat khusus menonjol sering
disebut dengan istilah talented children[3] sedangkan
anak yang memiliki bakat intelektual menonjol sering disebut dengan istilah gifted
children.
b.
Penggunaan Rasio dan Rationale
Anak-anak lebih cenderung memperoleh manfaat dalam
perkembangan moral ketika mereka memikirkan kerugian fisik dan emosional yang
ditimbulkan perilaku-perilaku tertentu terhadap orang lain. Menjelaskan kepada
anak-anak alasan perilaku-perilaku tertentu tidak dapat diterima, dengan focus
pada perspektif orang lain, dikenal sebagai induksi (Hoffman dalam Ormord,
2000:140). Contoh: induksi berpusat pada korban induksi membantu siswa berfokus
pada kesusahan orang lain dan membantu siswa memahami bahwa mereka sendirilah
penyebab kesesahan-kesusahan tersebut. Penggunaan konduksi secara konsisten
dalam mendisiplinkan anak-anak, terutama ketika disertai hukuman ringan bagi
perilaku yang menyimpang misalnya menegaskan bahwa mereka harus meminta maaf
atas perilaku yang keliru.
c.
Isu dan Dilema Moral
Kolhberg dalam
teorinya mengenai teori perkembangan moral menyatakan bahwa disekuilibrium
adalah anak-anak berkembang secara moral ketika mereka menghadapi suatu dilemma
moral yang idak dapat ditangani secara memadai dengan menggunakan tingkat
penalaran moralnya saat itu. Dalam upaya membantu anak-anak yang mengahdapi
dilema semacam itu Kulhborg menyarankan agar guru menawarkan penalaran moral
satu tahap di atas tahap yang dimilik anak pada saat itu. Contoh: bayangkanlah
seorang remaja laki-laki yang sangat mementingkan penerimaan oleh teman-teman
sebayanya, dia rela membiarkan temannya menyali pekerjaan rumahnya. Gurunya
mungkin menekankan logika hokum dan keteraturann dengan menyarankan agar semua
siswa seharusnya menyelesaikan pekerjaan rumahnya tanpa bantuan orang lain
karena tugas-tugas pekerjaan rumah dirancang untuk membantu siswa belajar lebih
efektif.
d.
Perasaan Diri
Anak-anak lebih cenderung terlibat dalam perilaku
moral ketika mereka berfikir bahwa mereka sesungguhnya mampu menolong orang
lain dengan kata lain ketika mereka memiliki efikasi diri yang tinggi mengenai
kemampuan mereka membuat suatu perbedaan (Narvaez dalam Ormrod, 200:140).
Contoh: pada masa remaja beberapa anak muda mulai mengintegrasikan komitmen
terhadap nilai-nilai moral kedalam identitas mereka secara keseluruhan. Mereka
menganggap diri mereka sebagai pribadi bermoral dan penuh perhatian, yang
peduli pada hak-hak dan kebaikan orang lain.
D.
Perbedaan
Individual dalam Perkembangan Moral
Bayi tidak memiliki hierarki nilai dan suara hati. Bayi tergolong nonmoral,
tidak bermoral maupun tidak amoral, dalam artian bahwa perilakunya tidak
dibimbing norma-norma moral. Lambat laun ia akan mempelajari kode moral dari
orang tua dan kemudian dari guru-guru dan teman bermain dan juga ia belajar
pentingnya mengikuti kode-kode moral ini. Belajar berperilaku moral yang
diterima oleh sekitarnya merupakan proses yang lama dan lambat. Tetapi
dasar-dasarnya diletakkan dalam masa bayi dan berdasarkan dasar-dasar inilah
bayi membangun kode-kode moral yang membimbing perilaku bila telah menjadi
besar nantinya. Karena keterbatasan kecerdasannya, bayi menilai benar atau
salahnya suatu tindakan menurut kesenangan atau kesakitan yang ditimbulkannya
dan bukan menurut baik atau buruknya efek suatu tindakan terhadap orang-orang
lain.
Untuk sebagian remaja serta orang dewasa yang penalarannya terhambat atau
kurang berkembang, tahap perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvensional.
Pada tahap ini seseorang belum benar-benar mengenal apalagi menerima aturan dan
harapan masyarakat. Pedoman meraka hanyalah menghindari hukuman. Sedangkan bagi
mereka yang dapat mencapai tingkat kedua sudah ada pengertian bahwa untuk
memenuhi kebutuhan sendiri seseorang juga harus memikirkan kepentingan orang
lain.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perkembangan
moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap.
Perkembangan moral (moral development) berkaitan dengan aturan dan konvensi
tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan
orang lain.
Perkembangan moral (moral development)
melibatkan perubahan seiring usia pada pikiran, perasaan, dan perilaku
berdasarkan prinsip dan nilai yang mengarahkan bagaimana seseorang seharusnya
bertindak. Perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal (nilai dasar dalam
diri seseorang dan makna diri) dan dimensi interpersonal (apa yang seharusnya
dilakukan orang dalam interaksinya dengan orang orang lain).
Kepribadian
adalah keseluruhan tingkah laku seseorang yang diintegrasikan, sebagaimana yang
nampak pada orang lain. Kepribadian ini bukan hanya yang melekat dalam diri
seseorang tetapi lebih merupakan hasil dari pada suatu pertumbuhan yang lama
suatu kulturil.
Dalam proses pembentukan kepribadian
seorang remaja, hal yang paling mempengaruhi adalah sekolah. Pentingnya sekolah
dalam memainkan peranan didiri siswa dapat dilihat dari realita sekolah sebagai
tempat yang harus dihadiri setiap hari.Sekolah memberi pengaruh kepada anak
secara dini seiring dengan masa perkembangan konsep diri, anak-anak menghabiskan
waktu lebih banyak di sekolah dari pada di rumah.Di samping itu sekolah memberi
kesempatan siswa untuk meraih sukses serta memberi kesempatan pertama kepada
anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistik.
DAFTAR
PUSTAKA
Kohlberg (dalam Ormord, 2000:371) dalam
Eva Yuliawati Makalah Perkembangan Moral.
htm
Piaget (dalam Slavin, 2008:69) dalam Eva
Yuliawati Makalah Perkembangan Moral. htm
Sunarto, Hartono Agung. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka
Cipta.
[1]
Syamsu
Yusuf, Nani M. Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2008). hlm 1
[2] Ibid hlm 22
[3] Ibid, hlm 78

Komentar
Posting Komentar